MAKASSAR, BERITAINDONESIARAYA.COM – Di sebuah lorong padat Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Bontoala, Makassar, masa depan pengelolaan limbah Indonesia sedang diuji bukan di laboratorium teknologi hijau, melainkan di tangan seorang warga bernama Darwin.

Berangkat dari keseharian yang bersentuhan langsung dengan tumpukan sampah kota,

Darwin merakit instalasi sederhana berbasis drum besi. Plastik-plastik yang selama ini berakhir di selokan dan sungai dialihkan ke dalam drum tertutup, lalu dipanaskan bukan dengan bahan bakar konvensional, melainkan oli bekas limbah lain yang kerap mencemari tanah dan air permukiman padat.

Oli bekas dimanfaatkan sebagai sumber panas awal. Saat suhu meningkat, plastik mengalami degradasi termal dan melepaskan uap hidrokarbon yang dialirkan melalui pipa pendingin rakitan.

Uap tersebut mengembun menjadi cairan menyerupai minyak, sementara residu padat tertinggal di dalam drum.

Seluruh proses berlangsung dengan peralatan terbatas, mengandalkan keterampilan lokal dan pengetahuan otodidak.

Apa yang dilakukan Darwin mencerminkan logika bertahan warga kota: ketika sistem pengelolaan sampah formal belum sepenuhnya hadir, solusi lahir dari improvisasi.

Dua jenis limbah dipertemukan dalam satu siklus pemanfaatan, dengan tujuan sederhana mengurangi sampah yang mencemari lingkungan Tompobalang.

Namun, eksperimen ini juga membuka pertanyaan serius. Pemanasan plastik tanpa teknologi pengendali emisi berisiko menghasilkan asap berbahaya dan senyawa toksik.

Tanpa standar keselamatan, pendampingan teknis, dan pengawasan lingkungan, praktik yang lahir dari niat baik dapat memindahkan masalah dari sampah padat ke polusi udara.

Kisah Darwin di Tompobalang bukan sekadar cerita inovasi individual. Ia adalah potret ketimpangan tata kelola limbah perkotaan.

Kreativitas warga menunjukkan daya lenting masyarakat, tetapi sekaligus menegaskan tanggung jawab negara menghadirkan teknologi yang aman, kebijakan yang adil, dan sistem pengelolaan limbah yang melindungi kesehatan publik serta lingkungan hidup.

Di sudut kecil Bontoala, masa depan sedang diraba—pelan, berisiko, namun jujur oleh warga yang bekerja di ruang kosong kebijakan.

 

(*)

Bagikan: