MAKASSAR – Anggota DPRD Kota Makassar, Ray Suryadi Arsyad, menyuarakan kekhawatirannya terhadap bangunan liar yang berdiri di atas fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos).
Ia menyebut keberadaan bangunan permanen ini sebagai salah satu penyebab utama banjir di wilayah utara Kota Makassar.
Ray menjelaskan, banjir tidak hanya dipicu oleh tumpukan sampah, tetapi juga oleh penyalahgunaan ruang publik yang mestinya berfungsi sebagai jalur air dan ruang terbuka.
“Masalahnya lebih kompleks, terutama karena banyaknya bangunan liar di atas drainase dan fasum-fasos,” ungkap Ray dalam keterangannya, Senin (23/6).
Ia menyoroti fenomena bangunan permanen yang dibangun menggunakan material seperti beton dan dinding, bahkan sebagian berdiri di atas saluran drainase.
Hal ini, menurutnya, menghambat aliran air sehingga memperparah banjir saat hujan deras.
Namun demikian, Ray tetap memberikan dukungan kepada pelaku usaha kecil menengah (UMKM) selama mereka tidak melanggar aturan atau mengganggu fungsi ruang publik.
“Saya selalu mendukung UMKM. Tidak masalah jika berdagang menggunakan gerobak atau bangku. Yang penting, setelah selesai, dirapikan dan tidak meninggalkan bangunan permanen,” tegasnya.
Ia juga mengkritik praktik sejumlah pedagang yang awalnya hanya menggunakan tenda atau meja, tetapi akhirnya membangun struktur permanen hingga bertingkat.
Sebagai solusi, Ray mendesak Pemerintah Kota Makassar segera membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk mengawasi dan menertibkan penggunaan fasum dan fasos.
“Saya minta segera dibentuk Satgas Fasum-Fasos. Pengawasan ini penting agar fasilitas kembali difungsikan sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Selain itu, Ray mengajak masyarakat untuk menjaga keteraturan dan tidak menyalahgunakan ruang publik demi kepentingan pribadi.
“Kalau mau berdagang di pinggir jalan, silakan saja, asalkan tidak mengganggu lalu lintas dan tetap menjaga ketertiban bersama. Dengan begitu, kita bisa menjaga Makassar tetap nyaman dan tertib,” tutupnya.





